Friday, April 25, 2008

Kehidupan ; Sudut Pandang Seorang Atlit

Pertanyaan

1. Awal mula memilih menjadi atlet. Kenapa? Tidak takut masa depan tidak terjamin? Apa ada komitmen khsus? Motivasi?

2. Apakah perjalanan karirnya ada hambatan? Apa?

3. Mulai main badminton dari umur berapa? Lalu masuk pelatnas bagaimana?

4. Apakah pada awalnya memang bercita-cita jadi atlet?

5. kalau jadi atlet menurut Ko can bisa menutup biaya hidup tidak sih?

6. Kalau tidak, selain jadi atlet profesinya apa lagi?

7. Apakah Ko Can juga mengarahkan anak-anak jadi atlet? atau malah bukan jadi atlet?

8. Bisa ceritakan aktivitas Ko Can sehari-hari? Apa setiap hari pulangnya malam?

9. Sudah puas belum dengan hasil yang dicapai saat ini?

10. Apakah ada perasaan bangga karena semua orang kenal, bahkan ngefans sama Ko Can?

11. Target ke depan yang paling nomor satu apa?

12. Selalu optimis?

13. Selalu memulai dan menutup hari dengan berdoa?

14. Dengan aktivitas yang begitu padat apa masih menyempatkan diri ke gereja?

15. Seberapa besar paran Tuhan dalam kehidupan Ko Can?

16. Pernahkah merah tidak sanggup menghadapi tanggung jawab?

17. Momen kejuaraan yang paling berkesan?

18. Tips-tips disiplin

19. Harapan/ Kesan untuk para junior

20. Prediksi bulutangkis Indonesia di Olympic dan Thomas&Uber Cup


Jawaban : (video)
di paling bawah

Data Pribadi

Nama lengkap : Candra Wijaya
Nama baptis : Rafael
Nama Panggilan : Ko Can
Nama Istri : Caroline Indriani
Nama Anak : 1. Gabriel Christopher Wintan Wijaya (6)
2. Christina Josephine Wintanita Wijaya (4)
TTL : Cirebon, 16 September 1975
Anak ke : 2 dari 4 bersaudara
Kakak : Indra Wijaya
Adik : 1. Rendra Wijaya
2. Sandrawati Wijaya
Tinggi/Berat : 175cm / 73 kg
Hobi : Memelihara binatang (Ikan, burung)
Masuk Pelatnas : 24 September 1993
Motto : Berikanlah yang terbaik apa yan bisa kamu berikan




Refleksi Wawancara dengan Candra Wijaya


Awalnya kita bingung menentukan siapa yang harus diwawancarai. Akhirnya Finka mengusulkan untuk mewawancarai seorang atlit. Kami pun menyetujuinya, karena juga pasti jarang ada yang mewawancarai atlit. Setelah mendapat nomor teleponnya dan membuat janji, ternyata Candra Wijaya, atlit yang ingin kami wawancarai, sering tidak bisa karena waktunya yang padat. Sampai akhirnya kami berhadil mewawancarainya.
Ternyata Candra Wijaya itu baik dan sangat religius. Ia menyerahkan semuanya pada kehendak Tuhan. Sampai sekarang, setelah menjadi atlit yang berprestasi, ia juga tetap bersyukur kepada Tuhan, karena menurutnya tanpa kehendak Tuhan ia tidak akan mungkin seberhasil seperti sekaarang ini. Ia juga bersyukur karena penghasilannya sebagai atlit dapat mencukupi kehidupan keluarganya.
Jadi satu hal yang bisa saya ambil adalah lakukan segala sesuatunya demi kemuliaan Tuhan, karena Tuhan selalu bersama-sama dengan kita.
Elrita XI S 1 - 10


Pada saat mendapat tugas wawancara, yang terlintas dalam benak saya adalah langsung mewawancarai atlet! Itu sudah menjadi hal yang "otomatis" dalam diri saya. Tapi setelah saya membentuk kelompok bertiga (saya,Micheline,dan Elrita) saya berpikir 2 kali untuk mewawancarai seorang atlet. Hambatan dalam pikiran saya adalah karena yang pertama: Menghubungi seorang atlet itu tidak mudah! apalagi atlet nasional yang dalam waktu-waktu ini sangat ketat latihan untuk Thomas & Uber Cup 2008! yang kedua karena saya berpikir teman-teman kelompok saya tidak terlalu interest dengan atlet bulutangkis. Namun, karena terdorong rasa ingin mewawancarai profesi yang berbeda dan termasuk langka tersebut, saya semakin niat untuk mewawancarai atlet. Lalu saya langsung mengutarakan niat saya pada kedua teman saya. Saya rasa saat pertama, mereka masih kuang peduli dengan niat saya, mungkin kami masih akan beralih jika menemui kesulitan untuk mewawancarai atlet tersebut.
Begitu sampai di rumah, saya mulai menentukan akan mewawancarai siapa. Saya sempat berpikir untuk mewawancarai atlet muda yang masih aktif di klub, kaena saya lumayan mengenalnya. Tapi, karena saya ingat kalu Bu Caecil sempat mengagumi Candra Wijaya, maka saya mulai memantapkan pilihan untuk kelompok kami.
Saya memang tahu kalau Candra satu paroki dengan saya, tapi saya belum pernah melihat dia di gere selama ini. Akhirnya saya bilang ke Michelle dan Rita.
Saya : " Eh kita wawancara Candra Wijaya yah,"
Michelle: " Serius lo, Fin?"
Rita : " Yang mana tuh? Serius lo Fin?'
Finka : " Ya donk!" hehe..
Setelah itu, minggu sore tanggal 20 April 2008 setelah pulang gereja jam 5, saya mulai pikir gimana cara ketemu Candra, "si atlet dunia" itu. Saya tahu rumahnya. Saya bingung antara cari tahu nomor teleponnya atau langsung datang ke rumahnya. Saya putuskan untuk mencari tahu nomor teleponnya. Saya bingung lagi cari nomor teleponnya dari siapa. Saya tidak tahu Candra itu wilayah berapa. Yang saya tahu kalau daerah komplek dia wilayah 8 dan 9. lalu, saya coba telepon ketua wilayah 8 tapi tidak bisa. Lalu, berhubung ketua wilayah itu adalah mamanya teman bulutangkis saya, maka saya nekat telepon dia.
Saya : "Halo, bisa bicara dengan Ibu Nelly?"
Rico : "Tunggu sebentar ya, Ci,"
(Rico itu teman bulutangkis saya, umurnya lebih kecil)
T. Nelly : "Iya ada apa ya?"
Finka : "Tante, saya mau tanya Candra Wijaya itu wilayah berapa ya? Karena saya mau wawancara dia buat tugas sekolah. Di wilayah tante bukan?"
T.Nelly : "Oh bukan, dia di wilayah 7. Tapi, bukannya dia lagi bertanding di luar?"
Finka : "Oh mestinya udah pulang sih,"
T.Nelly : "Hmm.., coba kamu telepon rumahnya deh ya.. Nomornya 543-xxx-xxx. Cari istrinya dulu aja"
(saya kaget karena si Tante punya nomornya Candra)
Finka : "Ok, thanks Tan..."
Waktu itu jam 8 malam. Begitu dapat nomor teleponnya saya langsung telepon. Yang angkat pembantunya.
Saya :"Bisa bicara dengan Ci Lina?"
Pmbntu :"Ibunya udah tidur"
Finka :"Ok Thanks"
Wah, udah tidur, besok saya telepon lagi deh. Besoknya tanggal 21, sore-sore.
jam 4 : "Bu Linanya lagi pergi"
jam 6 : "Bu Linanya belum pulang, antar les anaknya, mungkin jam 8 baru pulang,"
Saya bilang ke Rita dan Michelle untuk coba telepon juga, ternyata hasilnya sama, dai belum pulang.
jam 8 : "Ibunya belum pulang"
Besoknya, menurut analisa saya, Ci Lina dan anak-anaknya lagi jemput Candra di airport yang baru pulang dari kejuaraan Asia di MAS. Akhirnya tanggal 22 April, hari ulang tahun saya. Jam 9 pagi sebelum saya pergi, saya telepon ke rumah Candra dan yang angkat Candra sendiri.
Finka : "Halo. Bisa bicara dengan Candra Wijaya?"
Chandra: "Ya. Saya sendiri,"
Finka : "Saya Finka dari Santa Ursula. Apa saya bisa wawancara Ko Candra untuk tugas sekolah?"
Chandra: "Hmm.. Tapi sekarang saya udah mau pergi nih, untuk bawa obor. Mungkin sampe sore acaranya,"
Finka : "Oh. Paling cuma bentar aja sih kc. 15 menit"
Chandra: "Boleh sih, nanti malam coba telepon lagi aja yah,"
Finka : "Ok deh,"
Wah, akhinrya saya langsung ngomong ke Candranya. Tapi masih belum jelas waktu dan kapannya. Semula saya berencana memotret aktifitas Candra saat membawa obor,saya juga sudah hubungan dengan Michelle untuk janjian di Senayan. Ternyata rute obor diubah dan tidak sembarang orang boleh liat. Jadi, kita batal memotret.
Malamnya, pulang dari Senayan saya menelpon lagi ke rumah Candra dan diangkat oleh istrinya. Ternyata Candra baru saja pergi dan pulangnya malam sekitar jam 10. Jadi kami membuat ulang janji pada esok harinya tanggal 23 April malam. Memang belum tahu jamnya kapan. Ci Lina menawarkan supaya nanti dia yang akan menghubungi kami. Malam sekitar pukul tujuh kurang, Ci Lina menelpon kalau Candra bisa ditemui pukul 10 malam. Jadi, saya langsung hubungi Michelle dan Rita supaya jam 10 tepat datang ke rumahnya. Tapi ternyata Ci Lina baru liat sms dari Candra kalau dia ada di acara 4 matanya Tukul dan pulang malam sekali. Ci Lina minta maaf banget tapi kami memaklumi. Akhirnya kami pulang dan berharap besok bener-bener bisa wawancara. Dan dia akan hubungi kita lagi. Dalam doa saya mohon supaya bisa cepat selesai wawancaranya. Saya tergetkan tanggal 24 harus sudah ketemu.
Tanggal 24 April.
Pagi-pagi benar jam 7. Saya coba telepon lagi dan yang angkat Ci Lina. Saya tanya apa bisa kalau kita samperin Candra ke PBSI Cipayung. Tapi kata Ci Lina masuknya susah karena ada satpamnya. Jadi saya pikir ya sudah seperti rencana semula aja. Ci Lina kasih kabar kalau Candra sudah di rumah pk 15.00. Ci Lina telepon HP saya dan bilang bisa wawancara sekarang. tapi saya bilang teman saya masih ada di daerah Senayan jadi 2 jam lagi kira-kira dan akhinrya kata Ci Lina ketemu di kolam renang aja karena anak-anaknya pada berenang di sana. Akhirnya kami semua setuju dan kira-kira jam setengah 5 kami tiba dan ketemu sama Ci Lina. Candranya lagi keluar sebentar karena dia kira jam 5an kita baru datang. Sambil menunggu Ko Candra datang, saya, Michelle, dan Rita ngobrol-ngobrol dulu sama Ci Lina dan Tania anaknya. Kami sempat foto juga. ternyata Ci Lina dulu juga atlet bulutangkis dan malah sempat hijrah ke Singapura selam 1 tahun dengan adiknya Ronald Susilo yang sampai sekarang masih membela Singapura. Kalau tidak salah Ci Lina pergi tahun 88--89. Begitu lulus SMA dia langsung ke Singapura, waktu itu zaman Mia Audiva. Saya banyak berdiskusi tentang bulutangkis dengan Ci Lina. Tentang Klub Pelita, teman-teman saya yang dia juga kenal, setidaknya dulu di SMA Ragunan dan Ehm.. saat di bertemu Candra di klub (umur 13 tahun). Kami juga ngobrol tentang anak-anaknya, sedikit tentang kehidupan dan banyak menganalisis atlet-atlet bulutangkis zaman sekarang. Obrolan berlangsung mengalir dan lumayan seru. Saya merasa cocok dapat bertukar pikiran dengannya dan juga tambah pengetahuan (salah satunya istilah nyolong umur) hehe.. Ci Lina orangnya ramah, sederhana, sayang keluarga, disiplin, easy going, tidak ribet, dan tepat janji. Dia juga sabar sebagai ibu rumah tangga dan istri seorang atlet yang kebanyakan jarang di rumah. Setelah kami lama berbincang-bincang (sayangnya tidak direkam), Candra datang. Akhirnya kami bertiga pindah tempat duduk yang ditunjuk Ko Candra.
Pertama-tama Ko Candra kelihatan agak kaku dan jaim. Kami duduk duluan dan bagi tugas. Saya bagian tanya-tanya, Michelle mereka, an Elrita mencatat kalimat-kalimat penting. Wawancara dimulai mungkin pukul 17.15an. Tapi sebelumnya kami bersalamn dan perkenalan. lalu Ko Chandra duduk dan bertanya, "Apa nih yang bisa dibantu?"
Finka : "Iya. Kita mau wawancara, nanya-nanya koko buat tugas sekolah kita, langsung aja yah pertanyaannya," (bertanya)
Candra: "Hm.." (sambil ngelirik) " Pertanyaannya yang gitu-gitu yah?"
Finka : "Hmm.. iya sih kira-kira,"
Lalu Ko Candra menjawab dengan hati-hati dan sopan banget sampe kira-kira di pertanyaan ketiga dan keempat saya mulai lebih ke arah ngobrol-ngobrol dan tidak terpaku sama daftar pertanyaannya. Akhirnya Ko Candra juga jadi lebih santai dan banyak guyonnya juga. Suasana jadi enak dan mengalir.
Ko Candra orangnya ternyata tidak kaku. Sangat baik, humoris, jujur, sabar, rendah hati, tidak sombong, dan ternyata... sangat religius samapai dia pernah berpikir untuk jadi pastor! Wah.. hebat deh..
Selain itu dia juga simpatik..
Ga salah deh banyak yang ngefans..
Semula Michelle dan Rita yang agak buta bulutangkis jadi tertarik dan ikut simpatik sama Candra (saya jadi senang). Candra cerita kalau dia (pertama) orang yang amat religius, (kedua) dia tetep mau ikut Thomas tahun ini padahal sudah tidak di Pelatnas lagi, (ketiga) di benerr-bener bangga waktu bisa bawa pulang emas di Olimpiade Sydeney 2000 sama Ko Tony Gunawan.Ko Candra juga cerita motivasinya atas prestasi yang diraih kokonya (Indra Gunawan), trus gimana dia ketemu Ci Lina (di gereja pagi-pagi jam 6), samapai merindingnya waktu naynyi Indonesia raya di negeri orang, atau gak sempet nangis karena lagu Indonesia Rayanya kecepetan (hehe.. becandaan..). Ko Candra juga bilang sebetulnya Indonesia itu potensinya ada, tinggal masing-masing pribadinya aja. dia juga tidak mau maksain anaknya (Wintan dan Tania) untuk main bulutangkis, dia cuma ngedukung aja stiap cita-cita anaknya. Ko Candra mengakui kalau orangtuanya 'agak maksa' juga supaya anak-anaknya jadi pebulutangkis karena dari keluarganya (Engku, dll tidak ada yang 'jadi'.Dan terjadinya 'di tangannya' (sambil ketawa.. bercanda)
--Di sela-sela wawancara Wintan muncul dan reflek saya ajak bercanda dan salam. Dia lucu sekali, tidak takut orang.--
Saat ditanya pernah down aatau tidak Ko Candra bilang pernah. Tapi, dia selalu ingat pepatah "Jatuh 100 kali tapi harus bisa bangun 1000 kali. Yang penting berpikiran positif." Tentang penghasilannya sekarang dia mengaku cukup puas dan sangat Puji Tuhan. Cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan dia dan keluarganya. Tapi tetap, Ko Candra juga memikirkan bisnis lain di luar menjadi atlet. Sekarang ini dia juga mulai merintis bisnis alat-alat olahraga dan juga terjun ke dunia pertambangan seperti solar dan batu bara. Ko Candra tetap ingat ajaran orang tuanya untuk selalu menabung dan tidak menghambur-hamburkan uang begitu saja. Memang pilihan yang berat menjadi atlet. Ko Candra mengaku dia termasuk beruntung, Tuhan selalu memberikan jalan. Tentang prestasinya, Ko Candra mengaku puas tapi belum puas juga. Masih ada yang ingin dia raih.
Ko Candra juga orang yang selalu optimis. Pasti bisa. saat berada di suatu negara, Ko Candra selalu menyempatkan diri ke Gereja walaupun cuma sendiri. Peran Tuhan begitu besar bagi Ko Candra. "Tuhan selalu mengikuti Koko" bgeitu katanya. Ko Candra juga cerita hobinya yang lain. Ko Candra sangat menyukai binatang khususnya burang dan ikan. Begitu berbicara tentang ini, matanya langsung berbinar-binar. Idolanya adalah Mother Teresa, Ko Candra begitu mengaguminya. Motto hidup dan pesan untuk anak muda zaman sekarang dari Ko Candra, yaitu : "Berikanlah yang terbaik apa yang bisa kamu berikan dan jauhi hal-hal negatif, selalu berpikir positif, dan beri dedikasi yang maksimal" Ko Candra merasa amat senang bila dirinya dapat berguna bagi orang lain dan dapat memuliakan Tuhan. Seperti contohnya ia sering memberi kesaksian, bahkan diminta tolong oleh Gereja Kristen dan kabarnya akan dipublikasikan. Kami merasa sangat senang dapat bertemu dengan Ko Candra. Sangat simpatik dan inspiratif. Tentang saudara-saudaranya, mereka sangat senang berkumpul terutama saat Natal dan Xin Jia. tapi Ko Candra cenderung mandiri dan mencari Tuhan untuk menceritakan masalahnya.Semua yang diucapkannya tulus dari hatinya. Lain kali kami akan betemu lagi. (semoga). Sampai jumpa lagi Ko, Wintan! Yeay..

(Kesimpulan)
- Penghasilan yang cukup diperoleh melalui suatu kerja keras dan usaha. Juga disertai oleh keberanian dalam menentukan pilihan.

- Hambatan-hambtan itu selalu ada, bagi orang berhasil sekali pun tapi harus dipatahkan oleh motivasi dalam diri pribadi kita. Fokus pada tujuan awal kita.

- Hidup kita sepenuhnya disandarkan pada kebesaran Tuhan. Dalam kondisi apa pun tetap harus ingat dengan Tuhan. Tuhanlah yang selalu memberikan kita jalan.

- Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua harus selalu kita terapkan. Orang tua selalu mengingatkan untuk menabung, lakukanlah. Orang tua selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

- Kita tidak boleh cepat puas dengan apa yang kita peroleh. Orang lain juga berusaha sangat keras, dapat melebihi kita makakita tidak boleh kalah. Segala pencapaian yang kita peroleh harus kita pertahankan.
Finka XI S 1 - 13


Menjadi reporter dadakan dan mewawancarai orang terkenal itu ternyata tidak mudah. Setelah berdiskusi beberapa lama, kelompok saya memutuskan untuk mewawancarai atlit bulutangkis. Beruntung, Finka memiliki nomor Candra Wijaya, peraih Medali Emas Sydney Olympic 2000. Namun, kenyataannya perjalanan untuk mewawancarai seorang Candra Wijaya tidak semudah itu. Setelah menelpon berulang-ulang kali ke rumahnya, kami tetap tidak bisa berbicara langsung baik dengan Candra Wijaya maupun istrinya. Saat akhirnya berhasil menghubungi sang istri yang akrab disapa Ci Lina, kami diminta datang ke rumahnya yang berlokasi di Taman Semanan pada pukul 10 malam.
Tanggal 23 April 2008 datanglah kami ke rumah kediaman keluarga Chandra Wijaya dengan semangat yang meluap menantikan acara wawancara kami. Setelah melewati satpam yang menanyai kami berbagai macam hal, kami diijinkan untuk masuk ke rumahnya. Di sana Ci Lina menyambut kami dengan senyum ramahnya. Sayang, senyum ramahnya tidak menunjukkan pertanda baik. Ternyata Ko Candra harus mengikuti siaran acara Tukul di Trans TV hingga larut malam. Terpaksa kami pulang dengan hati kecewa.
Keesokan harinya kembali kami ditelepon. Katanya kami bisa mewawancarai Ko Candra di Sport Club Taman Semanan, karena kebetulan anak-anak sedang les berenang di sana. Telepon itu cukup mendadak, dan kebetulan saya sendiri sedang berada di tempat yang cukup jauh dari Taman Semanan.Saya sangat kaget, dan akhirnya meminta tolong utnuk merundingkan waktu kembali. Setelah acara kebut-kebutan di jalan, akhirnya saya bertemu dengan Finka dan Rita di depan Sport Club Taman Semanan. Saat itu kira-kira pukul 16.30. Ternyata Ko Candra sendiri sedang pergi mengunjungi temannya dan yang ada hanyalah Ci Lina dan anak-anaknya yang sedang les berenang. Sembari menunggu kami pun mengobrol singkat dengan Ci Lina. Mulai dari karirnya sebagai atlit di Singapore dulu, lalu mengenai bulutangkis dan atlit-atlit saat ini, mengenai gereja, sampai mengenai perbedaan sekolah internasional dan nasional, dan akhinrya kami mengobrol mengenai film yang sedang diputar di bioskop saat ini.
Sekitar pukul 17.00 akhirnya Ko Candra yang kami tunggu-tunggu pun datang. Setelah menyalami kami, ia pun memohon maaf karena telah membuat kami menunggu. Dari sana kami pun berpindah lokasi ke tempat yang memiliki kursi dan meja untuk kami mengobrol dengan leluasa. Wawancara kami awalnya berjalan dengan kaku, namun lama-kelamaan tampaknya kami mulai bisa menyesuaikan diri sehingga percakapan dapat mengalir dengan sendirinya.
Melalui wawancara itu saya dapat memetik banyak pelajaran. Mungkin orang-orang berpikir menjadi atlit terkenal adalah hal yang menyenangkan.Tentu saja menyenangkan, membanggakan pula malah. Namun yang tidak terpikirkan oleh orang-orang itu ialah perjuangan untuk menjadi atlit itu sendiri. Latihan yang berat, kejenuhan, dan ketidakpastian pada awal karir. Terlebih waktu-waktu yang banyak dilewati bukan untuk bersenang-senang dan bersantai, tapi untuk berlatih mati-matian demi meraih sebuah kata sukses. Sebagai orang awam, hal-hal seperti itu merupakan hal yang baru bagi saya. Namun, setelah saya pikir kembali, semuanya itu masuk akal. Untuk meraih kesuksesan memang tidak ada kata instan. Semuanya pasti harus melewati suatu proses dan selama proses itu sendiri pasti ada hal-hal yang harus dikorbankan. Bagi seorang atlit hal yang harus dikorbankan adalah waktu dan sekolah, namun bagi profesi lain mungkin ada hal lain yang harus dikorbankan. Jadi memang, meraih kata sukses itu tidaklah mudah adanya,
Pelajaran lain yang saya dapat berasal dari diri Ko Candra sendiri. Bagaimana ia yang bisa dibilang sudah sukses, masih dan selalu berserah kepada Tuhan. Bahkan ia mau mengakui akan adanya campur tangan Tuhan dalam setiap kejadian yang terjadi dalam dirinya. Menurut saya, orang yang berni mengakui hal itu adalah orang hebat. Lebih heabtnya lagi di tengah kesuksesannya itu ia juga selalu mencari Tuhan. Ia mengaku bahwa ia tetap ke gereja di sela-sela kesibukannya bahkan saat ia berada di luar negeri. Hal ini cukup mengagetkan saya, karena setahu saya biasanya orang-orang yang sudah terkenal akan menjauh atau lupa pada Tuhan karena kesibukan mereka. Sebenarnya masih banyak hal lain dari Ko Candra yang membuat saya takjub dan salut. Seperti kesederhaanaan dan keramahannya pada kami pun patut diacungi jempol. Padahal saya sendiri merasa bahwa kami telah menginterupsi waktu keluarganya yang pastinya sangat berharga.
Kesimpulannya untuk mencapai kesuksesan orang butuh banyak pengorbanan. Namun, kesuksesan itu sendiri tidak akan pernah lepas dari campur tangan Tuhan, oleh karena itu kita tidak pernah boleh lupa pada Tuhan, baik saat berjuang untuk mencapai kesuksesan maupun saat kita telah mendapatkan kesuksesan tersebut, karena tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa.

Micheline XI S 1 - 22

KEBAHAGIAAN DIBALIK ASAP

Senin, 21 April 2008 Amanda dan Tsara mendapat kesempatan untuk mewawncarai seorang pedagang jagung bakar di daerah rawamangun. Berikut hasil wawancara kami :

T ( Tanya ) : Nama lengkap, Bapak?
J ( Jawab ) : Kafirudin

T : Bapak berasal darimana?
J : Dari Purwokerto, Jawa Tengah

T :Berapa usia Bapak sekarang ini? Apakah Bapak sudah menikah? Sudah punya berapa anak, pak?
J : Saya berumur 35 tahun, saya sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak.

T : Di Jakarta ini Bapak tinggal dimana?
J : Saya dan keluarga tinggal di Cipinang Muara.

T : Sebenarnya apa cita-cita Bapak saat masih bersekolah dulu?
J : Sebenarnya dulu saya sangat ingin jadi mekanik, oleh karena itu saya bersekolah di STM

T : Bagaimana ceritanya Bapak bisa sampai di Jakarta?
J : Karena setelah lulus dari STM ( Sekolah Teknik Menengah ) di Purwokerto, tidak ada lapangan pekerjaan yang menarik disana. Dan jaman dahulu, Jakarta sebagai ibukota negara merupakan tempat yang strategis untuk mencari pekerjaan. Jadi saya dan kelurga saya memutuskan untuk mencari pekerjaan di Jakarta dan pindah ke Jakarta.

T : Kenapa Bapak memililih untuk menjadi pedagang jagung bakar?
J : Pada awalnya, saya tidak berjualan jagung, saya bekerja sebagai buruh pabrik di Jakarta. Tadinya yang menjual jagung bakar ini bukan saya tetapi saya titipkan pada orang lain. Namun orang tersebut minta berhenti untuk menjual jagung. Saya bingung tidak ada yang meneruskan pekerjaan ini, jadi saya memutuskan untuk berhenti dari pabrik dan beralih profesi menjadi pedagang jagung bakar samapai sekarang. Selain itu jagung bakar itu praktis, bahannya gampang untuk dijual dan banyak digemari oleh orang-orang.

T : Kenapa Bapak tidak mencari orang lain atau saudara untuk menggantikan berjualan jagung? Jadi Bapak bisa tetap bekerja di pabrik.
J : Saya sudah berusaha mencari penggantinya, tetapi mencari orang yang cocok, yang jujur susah. Jadi saya memutuskan saya saja yang berjualan.

T : Bapak sudah berjualan jagung bakar ini dari kapan?
J : Saya sudah mulai berjualan jagung dari tahun 1991

T : Kenapa Bapak memilih untuk berjualan di Rawamangun?
J : Menurut saya, Rawamangun ini tempatnya sangat strategis, jadi saya bisa mendapat keuntungan yang cukup banyak di sini.

T :Kan tempat tinggal Bapak jauh dari Rawamangun, jadi setiap hari Bapak mendorong gerobak ini daei Cipinang Sampai Rawamangun?
J : Ooh tidak, saya menitipkan gerobak ini di sekitar rawamangun, Jadi saya tidak perlu repot-repot untuk mendorong gerobaknya.

T : Berjualan di Rawamangun dari jam berapa sampai jam berapa, pak?
J : Mm, dari jam setengah 7 malam sampai dengan jam 12 malam atau tidak sampai jualan saya habis.

T : Berapa kira-kira penghasilan Bapak per hari?
J :Tidak tentu, tergantung cuaca dan pelanggaan yang datang. Rata-rata per hari keuntungan bersih saya sekitar Rp 100.000,00

T : Dengan penghasilan Bapak apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari?
J : Yaa, dibilang cukup ya cukup, dibilang tidak ya juga tidak. Jadi semunya dibuat cukup saja, asal kita pintar memutar uang tersebut.

T : Tapi, dengan penghasilan tersebut apakah Bapak bisa menyekolahkan kedua anak Bapak?
J : Iya, kedua anak saya sampai sekarang masih bisa bersekolah. Anak pertama saya kelas 1 SMP di SMPN 52 dan anak kedua saya masih kelas 6 SD.

T : Darimana Bapak mendapatkan resep untuk membuat jagung bakar ini?
J : Saya mendapatkan resep ini dengan cara diajarkan oleh seseorang. Sejak saat itulah saya mulai mencoba-mencoba dan ternyata berhasil dan disulai pelanggan saya.

T :Apakah istri dan keluaga mendulung pekerjaan Bapak yang sekarang ini?
J : Tentu saja, istri dan keluarga saya mendukung pekerjaan saya ini. Mereka tidak pernah mengeluh dan mensyukuri apa yang telah saya berikan.

T : Apakah Bapak berniat untuk berganti pekerjaan?
J : Ya kalau ada pekerjaan yang cocok saya mau. Saya kan kalau siang nganggur, jadi bolehlah sambil mengisi waktu luang.

T : Boleh tau suka duka Bapak selama menjadi pedagang jagung bakar tidak?
J : Ooh boleh, suka nya banyak begitu juga duka nya. Suka nya kalau lagi habis dagangannya jadi bisa bawa uang untuk penuhin kebutuhan. Anak isteri juga senang. Dukanya kalau hujan, dagangan jadi tidak laku.

T: Pak, boleh tidak Bapak menceritakan sedikit kehidupan sehari-hari Bapak selain berdagang di sini?
J: Mm, seperti yang telah saya katakan tadi pada siang hari sampai dengan pukul lima saya tidak bekerja saya di rumah saja bersama isteri dan anak saya. Saya di rumah membantu isteri saya menjaga warung untuk menambah penghasilan keluarga. Kira-kira pada pukul lima saya berangkat ke rawamangun untuk siap-siap berdagang. Setelah selesai berjualan, kira-kira pukul 12 malam saya pulang ke rumah untuk beristirahat. Ya itulah kehidupan sehari-hari yang saya jalani.

T: Bagaimana perasaan Bapak dalam menjalani pekerjaan ini? Bagaimana Bapak bisa menerima keadaan Bapak yang sekarang ini?
J : Ya saya menerima saja apa yang saya kerjakan sekarang ini. Yang penting saya terus berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar memberikan jalan yang terbaik bagi saya dan keluarga. Saya selalu mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri saya, karena saya tahu masih banyak orang yang lebih kekurangan daripada diri saya. Selain itu ini juga berkat isteri dan anak-anak saya yang selalu mendukung dan menerima saya apa adanya.

T: Apa tujuan dan cita-cita hidup Bapak sekarang ini?
J : Tujuan hidup saya adalah bekerja sebagai ibadah dimana dalam agama saya, yaitu agama Islam, segala sesuatu dalam hidup ini haruslah disyukuri. Karena apabila kita mensyukuri dan menerima apa adanya yang diberikan oleh Tuhan kita sebagai umat-Nya pasti akan diberikan balasan yang setimpal. Jadi tujuan hidup saya sekarang ini adalah menjadi orang yang baik bagi keluarga, kerabat saya serta bagi Tuhan sendiri. Karena menurut saya dimata Tuhan kita ini sama sebagai makhluk ciptaan-Nya yang membedakan kita hanyalah amal ibadah dan ketulusan kita dalam menjalani hidup ini, karena saya tahu Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi semua umat-Nya.
Kalau berbicara mengenai cita-cita hidup saya adalah mempunyai keluarga yang sakinah mawadah warohma sesuai dengan ajaran agama Islam serta saya ingin anak-anak saya berhasil di kemudian hari dan mempunyai kehidupan yang lebih baik dari saya sekarang ini. Sebenarnya cita-cita terbesar saya adalah bisa membimbing keluarga dengan baik sesuai ajaran-Nya sehingga kami sekeluarga bisa masuk Sorga.

Demikian hasil wawancara kami bersama Pak Kafirudin, pedagang jagung bakar di Rawamangun. Kami harap dengan adanya wawancara yang kami lakukan para remaja sekarang lebih bisa menghargai, mensyukuri hidup dan mengutamakan ajaran-ajaran agama dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

REFLEKSI PRIBADI AMANDA


Senin, 21 April 2008 yang lalu, saya ( Amanda ) mewawancarai seorang pedagang jagung bakar di daerah Rawamangun tepatnya di Jalan Balai Pustaka Timur. Saya berkesempatan untuk mewawancarai Bapak Kafirudin untuk memenuhi tugas religiositas yang mengangkat tema “Etos Kerja Menurut Agama-agama”. Saya mewawancarai Bapak Kafirudin ini bersama Tsara, teman sekelas saya.

Yang saya dapat dari hasil wawancara ini adalah bahwa tidak semua orang bisa merasakan kehidupan yang enak, nyaman, tercukupi segalanya, akan tetapi banyak sekali orang yang harus meraup sedikit uang dari membanting tulang setiap hari tanpa mengenal lelah demi membahagiakan keluarga dan mengisi perut yang kosong itu. Pada kesempatan yang langka ini saya berhasil mengupas sedikit banyak dari kehidupan seorang pedagang jagung bakar, Bapak Kafirudin. Pak Kafirudin ini tetap terlihat ceria walaupun sedang sibuk-sibuknya membakar jagung pesanan pelanggan. Ia dengan semangat menceritakan kehidupannya yang tidak seberuntung kita dan orang-orang di sekeliling kita kepada saya. Ia menceritakan bagaimana awalnya ia bisa sampai ke Jakarta padahal Pak Kafirudin ini merupakan asli orang Purwekerto, bagaimana ia bisa sampai berjualan jagung padahal tadinya Pak kafirudin sangat ingin menjadi mekanik, dan cerita-cerita unik lainnya tentang keluarganya, kehidupan sehari-hari yang selalu ia syukuri itu kepada saya.

Setelah hampir kurang lebih setengah jam saya dan Tsara mendengarkan cerita Pak Kafirudin dengan sesekali bertanya kepadanya, hati saya sangat tergerak dan kedua mata saya seolah terbuka melihat dunia lain dibalik dunia yang selama ini saya jalani. Saya merasa tersentuh dengan semua cerita dan perjalanan hidup Pak Kafirudin ini, ia terlihat begitu tegar menghadapi hidup yang semakin penuh dengan persaingan-persaingan dan selalu mensyukuri apa yang diberikan oleh Tuhan kepadanya. Pak Kafirudin juga terlihat ceria menceritakan isteri dan anak-anaknya, katanya isteri dan anak-anaknya selalu menghargai dan menerima apapun kondisi yang ada pada diri Pak Kafirudin walaupun senang ataupun sedih. Menurut Pak Kafirudin itulah yang menjadi salah satu pemicu mengapa ia masih bertahan berjualan jagung bakar sampai sekarang ini.

Dengan adanya wawancara ini membuat saya tahu dan sadar bahwa segala sesuatu itu sudah ada “jalan-Nya” dari Tuhan, oleh karena itu kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan haruslah bersyukur dengan segala yang ada di dalam diri kita dan yang telah diberikan oleh Tuhan, kita tidak boleh mengingini apa yang bukan menjadi hak kita. Selain itu nilai-nilai yang saya dapatkan karena wawancara dengan Pak Kafirudin ini adalah semua pekerjaan itu sama tidak ada bedanya. Semua pekerjaan akan menghasilkan uang entah untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari atau apapun itu. Jadi kita sebagai remaja sekarang ini hendaklah tidak memandang rendah seseorang hanya karena pekerjaannya, kita haruslah sadar dan menghargai orang lain bahwa semua manusia itu sama dimata Tuhan. Kita diciptakan sederajat oleh tuhan tidak ada yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah.
Amanda XI IPS1/1

REFLEKSI PRIBADI Tsara

Saya (Tsara) bersama teman sekelas saya Amanda dalam rangka mengerjakan tugas Religiositas berkesempatan mewawancarai seorang pedagang jagung bakar di daerah Rawamangun yang bernama Bapak Kafirudin. Dalam mewawancarai Bapak Kafirudin tema yang diangkat adalah “Etos Kerja Menurut Agama-Agama.” Dalam wawancara yang kami lakukan pada hari Senin, 21 April yang lalu, banyak nilai-nilai kehidupan yang dapat saya ambil.

Dalam wawancara yuang kami lakukan, Bapak Kafirudin menyadarkan kami bahwa dalam hidup janganlah pernah mengeluh dan beranggapan bahwa Tuhan pilih kasih atau tidak menyayangi kita. Karena semua cobaan yang dikasih Tuhan kepada kita tidak akan melampaui batas kemampuan kita, dan dibalik cobaan yang kita terima pasti akan ada hal indah yang telah Tuhan rencanakan bagi kita. Hanya saja kita sering kali tidak mengerti maksud Tuhan tersebut. Yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah terus berusaha dengan tekun untuk memperbaiki hidup dan tidak lupa untuk terus berdoa.

Bapak Kafirudin juga menyadarkan kami untuk terus bersyukur kepada Tuhan atas semua berkat dan rahmat yang diberikan. Karena tanpa rahmat dan berkat-Nya kita tidak mungkin jadi seperti ini. Dalam hidup janganlah kita melihat ke atas, karena apabila kita terus melihat ke atas kita akan menjadi manusia yang tidak akan pernah merasa puas, padahal apabila kita mau sedikit melihat ke bawah, kita akan sadar bahwa banyak orang diluar kita yang tidak seberuntung kita. Masih banyak orang yang tidak dapat makan, tidak punya rumah, tidak punya orangtua, atau tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Maka sudah sepantasnya kita bersyukur dan berbahagia dengan semua yang ada dalam hidup kita sekarang ini

Kita juga harus mencontoh sikap isteri dan anak-anak Bapak Kafirudin yang menerima dan mendukung apapun yang dikerjakan oleh Bapak Kafirudin asalkan pekerjaan itu halal. Keluarga Bapak Kafirudin tidak pernah mengeluh tentang keadaan mereka. Apabila kita melihat kembali sikap kita, seberapa sering kita marah kepada orangtua kita hanya karena permintaan kita tidak terpenuhi? Berbeda sekali dengan sikap keluarga Bapak Kafirudin yang mau menerima hidup dalam kesesederhanaan tersebut.

Satu hal yang ditekankan oleh Bapak Kafirudin adalah dalm melakukan apapun kita harus melakukannya dengan ikhlas. Seberat apapun pekerjaan itu kita harus melakukannya dengan senang hati tanpa rasa keberatan. Karena apabila kita melakukan pekerjaan kita dengan ikhlas dan tulus, maka pekerjaan yang kita lakukan akan menjadi ibadah dan membawa berkah bagi diri kita dan orang-orang di sekeliling kita.

Dari wawancara tersebut saya sadar bahwa dalam hidup kita tidak boleh membeda-bedakan seseorang. Karena Tuhan sendiri tidak membeda-bedakan umatnya. Terbukti dari hasil wawancara kami dengan Bapak Kafirudin banyak nilai-nilai hidup yang dapat kita pelajari darinya. Bukan berarti karena ia hanyalah seorang pedagang jagung bakar kita lebih baik dari dirinya. Berkat wawancaa tersebut saya sadar masih banyak dalam diri saya yang harus diperbaiki dan saya harus lebih bersyukur lagi atas semua berkat yang telah Tuhan berikan dalam hidup saya.
Tsara
XI IPS1/27

OPERATOR WARNET.. KENAPA TIDAK?



OPERATOR WARNET.. KENAPA TIDAK?

Kami (Vinta dan Dora) telah mengadakan wawancara dengan seorang operator warnet, yang kira-kira telah bekerja selama 1 tahun. Apakah menurutnya pekerjaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya atau kah ia belum merasa cukup dengan apa yang ia peroleh selama ini? Mari kita simak wanwancara kami dengan operator warnet tersebut.

Tanya : Nama mas siapa?
Jawab : Nama saya Widodo.

Tanya : Sekarang mas Widodo tinggal dimana?
Jawab : Untuk saat ini saya tinggal di Mangga Besar.

Tanya : Sebelum bekerja sebagai operator warnet, mas Widodo bekerja sebagai apa dan dimana?
Jawab : Dulunya saya bekerja sebagai delivery electronic di Bekasi.

Tanya : Lalu, apa alasan mas Widodo pindah dari tempat bekerja yang lama?
Apakah karena tempat bekerja yang dulu kurang begitu nyaman?
Jawab : Ohh bukan karena itu, saya selalu berusaha untuk menikmati pekerjaan yang saya lakoni. Hanya saja saya ingin mencari pengalaman lain.

Tanya : Hmmm, apa saja pengalaman mas Widodo sewaktu bekerja sebagai delivery
delivery electronic?
Jawab : Sebagai delivery electronic itu kita diharuskan untuk tepat waktu dan berhati-hati, seminim mungkin tidak ada komplain deh...

Tanya : Apakah keluarga mas mendukung pekerjaan-pekerjaan yang mas lakoni
tersebut?
Jawab : Keluarga saya sih dukung-dukung saja, mereka hanya berharap saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh karena mencari pekerjaan saat ini semakin sulit.

Tanya: Hmmm, apakah penghasilan mas saat ini sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup mas?
Jawab : Bisa-bisa saja sih... Karena saya sendiri belum berkeluarga.

Tanya : Selama bekerja disini suka duka apa yang mas rasakan?
Jawab : Kalu sukanya sih bisa menambah pengalaman saya dan pastinya saya bisa menambah teman..
Kalau dukanya seharian saya tidak bisa kemana-mana.

Tanya : Memangnya sebagai operator warnet, mas mulai bekerja dari pukul berapa?
Jawab : Saya mulai bekerja dari pukul 8 pagi sampai pukul 5 sore.

Tanya : Apakah ada persamaan antara pekerjaan yang dulu dengan yang sekarang?
Jawab : Tidak ada karena pekerjaannya sudah jelas berbeda.

Tanya : Lebih enak bekerja di tempat yang dulu atau yang sekarang mas?
Jawab : Di sini, karena tidak terlalu sibuk dibandingkan dengan yang dulu.

Tanya :Perlukah ada ketrampilan khusus ketika bekerja sebagai operator warnet?
Jawab : Pastinya perlu, kita harus bisa mengoperasikan komputer agar kalau sewaktu-waktu ada gangguan kita bisa cepat menanganinya.

Tanya :Berarti harus tahu tentang seluk beluk komputer?
Jawab : Iya, kalau disini paling tidak operator harus mengetahui tentang komputer-komputer dasar.

Tanya : Belajar komputer darimana?
Jawab : Belajar secara otodidak dari membaca buku-buku tentang komputer atau biasanya belajar dari teman-teman saya.

Tanya : Kami boleh tahu tidak, cita-cita mas sebelum menjadi operator warnet ataupun delivery electronic apa?
Jawab : Tidak ada, let it flow aja deh...

Tanya : Menurut mas, tujuan mas bekerja itu untuk apa?
Jawab : Yaa, agar bisa mempunyai penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan buat saya sih untuk mengisi waktu luang saya juga.




Refleksi

Bekerja bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi di zaman seperti sekarang ini. Begitu ketatnya persaingan ditambah tuntutan zaman makin meyakinkan saya bahwa bekerja itu bukan sesuatu yang main-main karena bekerja berarti kita mengorbankan waktu dan tenaga yang tentunya tidak ingin kita sia-siakan begitu saja. Ada saatnya keadaan membuat kita tidak ingin ‘maju’ lagi, dengan kata lain kita cenderung menyerah dan asa ketika apa yang kita dapat tidak sesuai dengan harapan terutama bila menyangkut dengan pekerjaan. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa setiap pekerjaan pasti akan ada titik dimana kita merasa tertekan atau mungkin menjadi ogah-ogahan dalam menjalaninya. Berdasarkan hal ini, kita dituntut untuk menikmati setiap pekerjaan yang kita lakukan seberat apapun itu. Karena dengan bekerjalah kehidupan kita sendiri dapat tercukupi. Dan menurut saya pekerjaan akan jauh lebih bermakna bila kita meletakkan ‘jiwa’ kita di dalamnyal, bila kita menikmatinya dan bila kita dipenuhi rasa optimis. Bekerja tidak memandang apakah pekerjaan itu ‘kecil’ atau ‘besar’ dimata orang, tapi baiklah kita memandang bahwa pekerjaan yang kita lakukan tersebut merupakan suatu hal yang ‘besar’ karena dari situlah kita bisa memulai kehidupan dan sebuah kesuksesan dapat diraih dari sesuatu yang kecil itu. Dari hasil refleksi diatas, saya semakin sadar bahwa suatu pekerjaan itu memang membutuhkan pengorbanan yang tidak setengah-setengah. Jiwa kita adalah pekerjaan kita, tanpa jiwa tentulah pekerjaan itu tidak akan hidup.
Vinta XI IPS 1/14



Semua orang berusaha mencukupi segala kebutuhannya agar dapat bertahan hidup. Untuk dapat mencukupi kebutuhan hidupnya, seseorang perlu bekerja namun, apakah semua orang menyadari betapa pentingnya bekerja? Melalui wawancara yang saya lakukan saya menarik kesimpulan bahwa bekerja itu sangatlah penting untuk masa depan karena dengan bekerja, kita dapat memperoleh penghasilan yang dapat membiayai segala macam kebutuhan kita, tidak semua orang beruntung memperoleh pekerjaan sesuai dengan yang mereka inginkan, dari sananlah saya memperoleh pelajaran baru bahwa tidak semua keinginan yang kita inginkan dapat terwujud dan untuk mewujudkannya kita harus berusaha dengan keras walaupun kadang kita harus merasa kecewa jika usaha kita gagal. Banyak diantara kita sering cepat mengalami putus asa ketika mengalami kegagalan, padahal dengan kegagalan kita mendapat pengalaman yang baik sebagai bekal masa depan kita, pada kenyataannya untuk mencapai kesuksesan seseorang harus bersaing dengan yang lainnya karena di dalam dunia bisnis, yang cepat maka dialah yang dapat. Dari kenyataan ini, secara tidak langsung kami diajak untuk tidak menyia-nyiakan semua kesempatan yang diperoleh karena kesempatan itu tak akan pernah terulang lagi. Melihat betapa sulitnya mencari uang, saya menyadari bahwa seharusnya kita tidak terlalu boros dalam menggunakan uang karena masih banyak kebutuhan-kebutuhan lain yang dapat kita penuhi dengan sisa uang yang kita miliki. Dari hasil refleksi di atas, saya menjadi mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak saya ketahui karena saya belum pernah mengalaminya. Saya berharap semoga dengan refleksi ini, saya menyadari bahwa untuk memperoleh pekerjaan ya kita inginkan, kita harus berusaha dengan keras dan yakin bahwa tuhan akan selalu menyertai kita dalam setiap pekerjaan kita sehingga hasilnya memuaskan.
Dora XI IPS 1/ 18

“Berkah dibalik Gerobak Bakso”



“Berkah dibalik Gerobak Bakso”

Suatu siang di hari Minggu, 20 April 2008, kelompok kami yang terdiri dari Caca, Jeje, dan Yurika, kelas XI IPS 1, sedang berkumpul di rumah Caca, Jl. Janur Kuning 3 untuk berdiskusi soal tugas religiositas yang akan kami buat. Tiba-tiba, perut Jeje berbunyi, tanda ia sedang lapar. Entah mendapat ilham dari mana, seorang tukang bakso lewat di depan rumah Caca. ”Tok... tok... tokk... BAKSSSSOOOO!!!” Dan seketika Jeje langsung lari keluar dan memanggil si tukang bakso sambil melambaikan tangan. ”Bang, bakso!” panggil Jeje. Ting! Lalu kami serentak memutuskan untuk mewawancarai tukang bakso tersebut seraya mencicipi nikmat bakso di siang hari. Berikut adalah percakapan kami dengan tukang bakso yang ternyata bernama SUMARDI.

Tanya (T) : Mas, umurnya berapa?
Jawab (J) : Saya lahir tahun 1983, Mbak. Jadi umur saya berapa, Mbak?
T : Oh, kira-kira 25 tahun, Mas. Asal mana, Mas?
J : Solo, Mbak.
T : Sejak kapan tinggal di Jakarta, Mas?
J : Sejak 2002.
T : Langsung jadi tukang bakso, Mas?
J : Ya iya toh, Mbak.
T : Ngomong-ngomong sudah berkeluarga, Mas?
J : Kebetulan... masih perjaka ting - ting!
T : Orang tua masih ada, Mas?
J : Masih komplit, Alhamdullilah. Sekarang masih sibuk di kampung, membajak sawah.
T : Kalau saudara?
J : Ada 1 kakak, tetapi sudah berkeluarga.
T : Oh... terus yang mengusulkan supaya jadi tukang bakso siapa, Mas?
J : Kakak saya.
T : Modal usaha berjualan bakso ini dari siapa, Mas?
J : Dari uang saya yang sudah saya tabung bertahun-tahun. Itu pun masih kurang banyak, jadi harus minta tambahan dari kakak dan orang tua.
T : Kenapa memilih jadi tukang bakso, Mas? Kan masih ada pekerjaan lain.
J : Iya sih, Mbak. Tetapi berhubung saya cuma lulusan S2, SD dan SMP , ya mau kerja apa lagi... Cuma ini yang bisa saya lakukan sekarang.
T : Sebenarnya, cita-citanya apa, Mas?
J : Seperti orang kampung lainnya, pastinya ingin menjadi pengusaha sukses dan kaya.
T : Memangnya tidak ingin menjadi petani juga dengan meneruskan sawah keluarga?
J : Tidak, Mbak. Saya inginnya menjadi lebih sukses daripada orang tua saya. Tapi toh pada akhirnya saya masih sering meminta bantuan mereka, terutama dari segi materi. Rasanya malu, Mbak.
T : Maaf, Mas, kalau boleh tanya, kira-kira penghasilan per hari berapa?
J : Ya, syukur-syukur dapat Rp 20.000 sampai Rp 25.000 sehari.
T : Hah? Memangnya kerjanya dimulai dari jam berapa, Mas?
J : Jam 12 siang sampai jam 11 malam. Itu pun syukur-syukur bisa habis, Mbak.
T : Mas, rute berdagang bakso dari mana sampai mana?
J : Ya, sekitar – sekitar sini saja, Mbak. Cuma dari Janur Hijau, Janur Kuning, dan Pelepah.
T : Dengan penghasilan yang sebegitu kecilnya, apakah kebutuhan bisa terpenuhi seluruhnya, Mas?
J : Tergantung, Mbak. Kadang-kadang lebih, kadang pas-pasan buat makan, kadang kurang, bahkan harus minta sama orang tua di kampung untuk menambahkan modal. Apalagi sekarang di mana-mana harga terus naik. Jadinya saya harus pintar-pintar memikirkan bagaimana caranya supaya tetap untung, minimal sampai modalnya tertutup, Mbak.
T : Memangnya modal untuk membuat bakso ini berapa, Mas?
J : Wah, tidak tentu, Mbak. Tergantung berapa jumlah daging dan bahan-bahan lainnya yang saya pakai. Apalagi sekarang di mana-mana harga pada naik. Modal yang pasti sih, cuma sewa gerobak dan alat-alat memasaknya seharga 14 ribu sehari. Tapi untungnya saya dapat bonus tempat tidur.
T : Tempat tidur? Maksudnya, Mas?
J : Iya, saya diberi tempat tinggal. Walaupun harus bertumpuk-tumpuk dan berbagi tempat dengan tukang bakso lainnya.
T : Selama hampir 6 tahun menjadi tukang bakso, Mas, pernah tidak baksonya tidak laku?
J : Tidak laku sih kebetulan belum pernah, Alhamdullilah, Mbak. Tapi kalau tidak untung sih pernah, Mbak. Jadinya saya harus menombok dari keuntungan hari sebelumnya untuk mengembalikan modal.
T : Mas, pernah merasa menyesal menjadi tukang bakso?
J : Ya... gimana ya, Mbak. Saya bingung bilangnya. Mau dibilang menyesal juga nggak. Tidak menyesal juga iya. Ya, anggap saja memang sudah nasib saya jadi tukang bakso, Mbak.
T : Maaf, Mas. Ngomong-ngomong agamanya apa, Mas?
J : Alhamdullilah, sampai saat ini saya masih muslim sejati. Insyaalloh sampai saya mati nanti.
T : Karena hidup Mas yang ibaratnya serba kekurangan, Mas pernah merasa Tuhan tidak adil kepada Mas?
J : Tidak pernah. Menurut saya Tuhan menciptakan manusia itu semuanya baik adanya. Memang ini nasib yang diberikan Tuhan kepada saya dan saya hanya bisa mensyukurinya.
T : Kalau marah sama Tuhan, pernah, Mas?
J : Merasa Tuhan tidak adil saja saya tidak pernah, Mbak. Mana berani saya marah sama Tuhan. Wong saya ini cuma manusia biasa yang kecil di mata Alloh.
T : Dari agama Islam sendiri, adakah ajaran yang mengajarkan tentang sebuah pekerjaan yang sebaiknya dipilih oleh umatnya?
J : Saya kurang tahu persis bagaimana isi ayat di Al-Qur’an. Tetapi yang penting itu pekerjaannya halal, tidak menentang agama dan tidak merugikan orang lain. Saya rasa itu sah-sah saja.
T : Kalau ajaran tentang berusaha dan memaknai hidup, ada, Mas?
J : Katanya sih, cukup berusaha sekuat mungkin sambil berdoa kepada Alloh agar diberikan rejeki yang baik.
T : Kalau begitu, terima kasih ya, Mas. Ngomong-ngomong harga baksonya berapa, Mas?
J : Cukup Rp 5.000, Mbak. Makasih.


Refleksi kelompok :
Caca [XI IPS 1/3]

Setelah mewawancarai tukang baso tersebut saya menjadi berpikir kalau mencari pekerjaan itu tidak mudah. Apalagi kalau tidak didukung pendidikan yang memadai. Apalagi di Jakarta yang lapangan pekerjaannya semakin hari semakin sempit, semua orang berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan. Mas Sumardi yang pekerjaannya hanya sebagai tukang bakso, dan sangat berbeda dengan cita-citanya tetap tidak mengeluh walaupun hanya menjadi tukang bakso. Ia masih bersyukur bisa memiliki pekerjaan itu daripada tidak sama sekali.


Jeje [XI IPS 1/ 6]
Dari hasil tanya jawab dengan tukang bakso, saya mnyadari begitu banyak orang di luar sana yang kehidupannya sulit dan mereka berusaha untuk bertahan hidup dengan segala cara. Sedangkan saya yang masih tergantung dengan orang tua sering mengeluh kepada Tuhan. Saya menyadari kehidupan itu sangat sulit dari yang saya bayangkan, tanpa adanya usaha dan doa, sulit bertahan di kota Jakarta ini. Kita juga perlu berserah kepada Tuhan dan bersyukur terhadap apa yang sudah kita miliki, kelak Tuhan akan memberikan semua indah pada waktunya.


Yurika [XI IPS 1/ 29]
Dengan mewawancarai Mas Sumardi ini, saya menyadari bahwa hidup itu sedemikian berat dan susahnya. Saya kerap berpikir apa yang menjadi kekuatan dari dirinya yang kelihatan biasa saja. Ternyata saya tahu bahwa dengan menerima dan mencintai hidup yang diberikan Tuhan, sesulit apapun itu, kita dapat terus berusaha dan tidak menyerah. Sesulit apapun hidup itu, pasti Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang terbaik bagi umat yang terus percaya pada Tuhannya. Dan kita manusia, yang hanya seorang makhluk kecil di mata Tuhan, kata Mas Sumardi itu, hanyalah bisa terus berdoa dan berusaha sambil mengharapkan rejeki yang baik.
TERIMA KASIH

Thursday, April 24, 2008

HASIL WAWANCARA DENGAN PAK OYOT

HASIL WAWANCARA DENGAN PAK OYOT
(Pedagang jus buah di SD SANTA URSULA)


Pak Oyot adalah salah satu pedagang yang berjualan di SD Santa Ursula , Pak Oyot memilih berjualan jus buah . Ketika kami bertanya mengapa Pak Oyot memilih profesi ini , ia mengatakan karena bahan baku yang harus dibeli dan diperoleh tidaklah sulit , selain tidak repot juga tidak mudah rusak . Selain Jus Alpukat , Jus Sirsak , dan Jus Strawberry , Pak Oyot juga berjualan Es Campur .
Demikianlah hasil wawancara kami dengan pak Oyot :



P : Pertanyaan
O : Jawaban Pak Oyot



P : Pak kenapa memilih tempat berjualan di Santa Ursula ?
O : Karena tempatnya ga terlalu jauh dari rumah saya , juga ga terlalu jauh dari tempat saya biasa membeli bahan baku untuk jualan .



P : Pak kenapa milih jadi penjual jus buah ?
O : Karena barahnnya mudah dicari dimana-mana , trus ga mudah rusak , dan juga ga repot , kalo ualan mie gitu kan harus beli minyak juga , dan harga minyak naik terus , makannya saya ga mau pusing-pusing mikirin harga minyak yang naik terus makanya mendingan saya jualan jus aja tinggal yang penting beli es .



P : Bapak berjualan ini cukup ga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari ?
O : Ya dibilang cukup lumayan lah



P : Pak , apakah bapak sudah berkeluarga ?
O : Sudah , saya memiliki satu istri dan satu anak .



P : Apakah penghasilan bapak dapat mencukupi kelurga ? bisa nabung gak ?
O : Lumayan cukup , masih bisa nabunglah dikit-dikit



P : Pak ada hambatannya apa saja?
O :Yah,,kalo hujan saja jadi jarang yg beli,,soalnya kan dingin jdnya pelanggan jd berkurang,,gk mungkin kan dingin2 minum yg dingin2,,trus juga kan hujan jadi anak-anak tidak bisa jalan kesini ,trus klo libur juga jadi pada jarang yg beli,,jdnya penghasilanya lebih sedikit,,



P : Sekali belanja berapa kilo pak untuk sekali berjualan ?
O : Kalo alpukat 10 kg , sirsak 5 kg , kalo strawberry RP 40.000 ,



P : Penghasilannya dikasih ke sekolah ga ?
O : Ngaa , paling bayar iuran aja sebulan sekali



P : Sukadukanya berjualan ini apa ?
O : Sukanya kalo lagi laris , saya seneng banget soalnya kan bisa dapet penghasilan lebih , dukanya kalo lagi tidak laris kan penghasilan saya jadi berkurang .


Demikianlah hasil wawancara kami dengan Pak Oyot karena banyak sekali yang membeli jus buah Pak Oyot sehingga kami hanya mendapatkan sedikit waktu untuk melakukan wawancara dengan pak Oyot .



Dari hasil wawancara diatas kami hanya ingin mengatakan bahwa tiap-tiap orang memiliki kebutuhan yang beranekaragam , sepert Pak Oyot yang mengharapkan cuaca panas agar jus buahnya laris , dan mungkin sebagaian orang mengharapkan cuaca dingin agar sweater yang dijualnya laku , dan lainnya .




REFLEKSI
Dari hasil wawancara saya dengan Pak Oyot yaitu salah seorang pedagang jus buah di SD SANTA URSULA , kita dapat banyak merefleksikan kejadian-kejadian hidup yang dialami tiap-tiap orang selalu berbeda-beda . Namun dari banyak perbedaan tersebut ada satu kepastian adalah setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan , namun tingkat kesulitan tiap orang itu selalu berbeda pula . Dari cerita diatas saya akan lebih menonjolkan sisi-sisi kehidupan dan bagaimana kita harus mengatasi kehidupan yang begitu berat ini .


Seperti Pak Oyot , ia memilih profesi sebagai pedagang jus buah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya , walaupun terlihat mudah namun dalam menjalani hari-harinya sebagai pedagang jus buah pun mengalami kendala dan hambatan seperti yang dikatakannya ia dapat mengalami kerugian apabila hujan turun karena dengan hujan banyak anak yang tidak dapat membeli jus buahnya sehingga dapat dikatakan jualannya tidak laris .


Kadang dalam menjalani hidup ini kita tidak jarang menemukan hambatan dan rintangan , namun dengan hambatan dan rintangan tersebut tidak boleh kita jadikan alas an untuk tidak dapat mencapai sesuatu yang kita inginkan melainkan harus bisa menjadikan kita sebagai motivasi dalam hidup untuk dapat lebih maju meraih apa yang belum dapat kita raih sebelumnya dengan usaha dua kali lipat bahkan lebih . Dan juga selain berani memotivasi hidup kita , kitapun harus berani menaruh kepercayaan kepada diri kita sendiri bahwa kita pasti bisa dan dapat mewujudkan mimpi-mimpi kita tersebut . Saya menyadari kata-kata ini tidak mudah untuk dijalani namun menurut saya tidak ada kata lainpun yang lebih baik untuk memotivasi hidup kita agar lebih baik dan terarah sesuai dengan keinginan kita . Sebut saja ketika seseorang mengalami kegagalan dan kegagalan itu merubah hidup orang tersebut menjadi buruk , setelah itu orang-orang muali tidak dapat mempercayainya , saya yakin pasti orang itu akan terpukul , frustasi , bahkan tidak tahu harus berbuat apa dan lebih parahnya lagi selain menyalahkan dirinya yang tidak berguna , ia pun akan menyalahkan Tuhan atas kejadian ini . Jika hal ini terjadi apa yang harus dilakukan lagi selain ia mulai menyusun dan menata hidupnya yang baru berjalan pelan tapi pasti untuk memulai hidupnya lagi yang baru dan berhasil , dan percayalah pada diri sendiri dengan langkah apa yang akan ditempuhnya saat ini ,percayalah akan berhasil , dan tetap semangat agar orang-orang yang selama ini menilainya buruk dapat merubah pandangannya tersebut , dan yang terakhir berserahlah pada Tuhan dengan keyakinan penuh , karena apa yang terjadi pada diri anda adalah atas kemauan anda .


Maka dari itu sekarang kita mengetahui betapa sulitnya mencari uang , maka hikmah yang dapat saya ambil dari cerita diatas adalah hargailah uang dan berikanlah kepada orang yang membutuhkan dengan tulus apabila kita berlebih .
Levina Ferni
XI IPS1 / 19


Refleksi
Mendengar cerita-cerita yang telah beliau curahkan kepada saya, saya menjadi sangat tersentuh. Saya merasa bersyukur telah diberikan Tuhan kehidupan yang serba berkecukupan. Rumah yang nyaman, yang tidak pernah merasa kuatir akan kebanjiran dan kebocoran, ada pembantu yang selalu siap melayani dan menyediakan sarapan ,makan siang dan makam malam serta orangtua yang selalu menyayangi kita dan selalu siap membelikan apapun kebutuhan kita. Saya tidak pernah memikirkan masalah uang, tidak pernah memikirkan apakah bulan depan uang sekolah terbayar atau tidak, pokoknya tidak pernah merasakan kekurangan dalam masalah keuangan. Hal ini sangat berbeda sekali dengan keadaan Pak Oyot, oleh karenanya saya patut bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan saya ini.
Namun memang tidak benar bahwa kebahagiaan hanya dapat terjadi bagi mereka yang mempunyai uang banyak saja.


Sebelumnya saya memang sempat berpikir, memiliki ekonomi yang tinggi akan membuahkan kebahagiaan. Tetapi saya melihat, Pak Oyot yang selalu bahagia dengan kehidupannya yang telah Tuhan berikan kepadanya. Walaupun banyak sekali hambatan-hambatan dalam hidupnya tetapi beliau tetap tegar dan sabar menjalaninya. Memiliki anak dan istri tentu saja tidak ringan untuk membiayai hidupnya dan keluarganya. Mengatur keuangannya yang serba pas pasan tentunya tidak mudah, namun Pak Oyot begitu sabar menjalani ini semua, beliau sangat percaya bahwa setiap permasalahan yang terjadi dengan memohon kepada NYA pasti diberikan jalan keluarnya.


Saya begitu kagum kepada beliau, hal ini sangat besar manfaat yang dapat saya jadikan sebagai contoh dan pegangan bagi kehidupan saya. Betapa saya tidak boleh cepat putus asa dan menyerah ketika kesulitan datang. Saya harus kuat seperti Pak Oyot dan percaya bahwa Tuhan akan selalu berada didekat kita, dengan kita berdoa dan menyampaikan segala beban kita, pasti akan diberikan petunjuk dan jalan keluarnya. Hal lain yang dapat saya pelajari adalah bahwa kehidupan itu tidak mudah dan kita harus berjuang dengan keras apabila kita ingin berhasil, jadi saya yang saat ini masihsebagai pelajar maka harus rajin dan giat dalam belajar supaya nilai-nilai saya bagus dan nanti saya bisa lulus SMA dengannilai yang baik. Dengan nilai yang baik maka kita bisa mendapatkan perguruan tinggi yang baik juga sehingga apabila lulus dari perguruan tinggi yang terbaik itu, maka kita akan lebih mudah mencari pekerjaan di perushaan yang besar dan baik juga bagi perjalanan karier kita selanjutnya.


Jadi saat ini kita jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada, supaya kita tidak menyesal nantinya dan yang terutama kita dari sekarang harus menimba bekal yang sebanyak-banyaknya untuk menghadapi kehidupan kita selanjutnya yang cepat atau lambat kita tidak bisa lagi bergantung kepada modal orang tua.
VICKY CLAUDIA
KELAS IPS1/NO.28

dari Otomotif sampai Musik

WAWANCARA

Hari Senin tanggal 21 April 2oo8, kami, Astrid, Carissa, dan Nydia mewawancarai seorang petugas Gokart di Taman Bunga Nusantara Puncak. Berikut hasil wawancara kami.

T : Siapa nama lengkap Bapak?
J : Muhammad Yusuf.
T : Kalau nama panggilan?
J : Yus.
T : Tempat dan tanggal lahir Bapak?
J : Cianjur ,15 Juni 1980.
T : Sekarang alamat rumah Bapak dimana?
J : Cipanas.
T : Bapak anak berapa dari berapa saudara?
J : Anak ke 3 dari 3 bersaudara.
T : Apakah Bapak sudah berkeluarga?
J : Belum, masih single.
T : Nama ayahnya Bapak siapa?
J : Bapak Sukarta.
T : Kalau nama ibunya Bapak?
J : Ibu Muktini.
T : Agama Bapak?
J : Islam.
T : Bapak sudah sejak kapan tinggal di puncak?
J : Dulunya saya tinggal di Purwarkarta, namun ketika saya mendapatkan pekerjaan di Puncak, lalu saya pindah kesini.
T : Jenjang pendidikan Bapak?
J : Hanya SMA.
T : Ini pekerjaan pertama?
J : Bukan, saya sudah pernah kerja sebelumnyadi restorant dan perhotelan.
T : Lalu mengapa bapak memutuskan pindah?
J : Karena saya ingin mendapatkan pengalaman yang lain saja.
T : Kalau bekerja di sini sebagai pengoperasi permainan Gokart sudah berapa lama?
J : Sudah 8 tahun, paling lama disini.
T : Kalau boleh tahu bapak bekerja disini mendapatkan gaji berapa?
J : Kalau disini ada gaji perhari dan perbulan, kalau gaji perharinya Rp 20.000 berarti kalau sebulan kurang lebih Rp 600.000.
T : Dengan gaji sebesar itu apakah sudah cukup untuk kebutuhan sehari- hari?
J : Yah, dengan gaji sebesar itu sudah cukup sih, sesuai dengan UMK Cianjur, yang terpenting bagaimana kita mengatasinya saat sedang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita.
T : Bagaimana caranya mengatasi kalau sedang tidak cukup?
J : Mau tidak mau saya mengambil pekerjaan sampingan.
T : Apa?
J : Saya juga bekerja dibidang hiburan seperti entertainment juga, di bidang Live Music, musik Tradisional.
T : Mmm,, cita-cita bapak dulu pas masih anak-anak apa?
J : Yah seperti kebanyakan cita-cita anak kecil lainnya, saya ingin menjadi pilot. Tapi tidak kesampaian samapai saat ini.
T : Masih ingin mencapai cita-cita itu?
J : Yah kalau dulu masih ingin, tapi sepertinya itu bukan jalan hidup saya. Sudah ditentukan oleh Tuhan seperti ini.
T : Bapak juga ikut membiayai orang tua?
J : Sebagai anak,saya juga sedikit membantu orang tua dan saya juga tidak ingin membebani orang tua lagi, jadi saya mau hidup mandiri.
T : Bapak sudah bekerja 8 tahun disini, pasti punya suka dan duka bekerja disini, kalau sukannya apa?
J : Kalau sukanya saya banyak mendapat pengalaman dan bekerja disini juga kita dapat menjadi multi fungsi. Jika kita bekerja disini, walaupun kita hanya bekerja disatu sector, kita juga dapat tahu semua hal tentang perusahaan ini, bagaimana sistem kerja dan pembagian kerjanya.
T : Kalau dukanya?
J : Karena kita pekerja yang langsung turun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan pengunjung, kita harus pandai-pandai menangani pengunjung yang terkadang tidak menyenangkan. Kita juga harus menerima berbagai macam komplain pengunjung dengan baik. Selain itu kita harus bertanggung jawab pada perlengkapan disini mulai dari mobil gokart dan jalannya. Sudah ada beberapa kerusakan pada mobil akibat pengunjung yang memakai dan menabrakkannya maka untuk menghindari berbagai macam kerusakan lainnya,kita sebagai petugas harus memperketat tata tertib, jadi pengujung juga tertib apabila sedang bermain gokart disini.
T : Oh iya, jam operasional disini mulai dari..?
J : Kalau hari biasa, senin sampai jumat mulai dari jam 09.00- 17.00, sedangkan kalau hari sabtu,minggu dan hari-hari besar kami buka dari jam 08.00-17.30.
T : Pernah ada pikiran ingin pindah dari pekerjaan ini?
J : Pernah ada.
T : Kenapa?
J : Yah karena ingin cari pengalaman yang lebih dari pekerjaan ini dan ingin mendapatkan pendapatan yang lebih dari pekerjaan ini.
T : Kalau ingin pindah, mau pindah ke bidang apa?
J : Mungkin ke bidang pariwisata juga.
T : Pertanyaan terakhir, apa harapan bapak di pekerjaan bapak yang sekarang ini?
J : Saya berharap pariwisata itu lebih untuk remaja, orang-orang muda yang lebih banyak bekerja di bidang pariwisata karena dengan beriringnya usia yang menuju tua maka sudah tidak begitu cocok untuk bekerja lagi di bidang pariwisata ini. Dan tentunya pariwisata Indonesia semakin maju.

(M. Yusuf dan Gokart)
(Saat wawancara)
(Saat wawancara)
(Nydia, M.Yusuf, Carissa, Astrid)



REFLEKSI PRIBADI

Setelah melihat perjuangan Bapak M.Yusuf, saya merasa bersalah karena selama ini saya menghambur-hamburkan uang orang tua saya. Begitu beratnya perjuangan Pak Yusuf untuk mencari sesuap nasi. Namun, saya malah menghamburkan uang orang tua saya. Saya mau berusaha untuk lebih berhemat lagi dan menggunakan uang dengan hati-hati, karena saya tahu orang tua saya pun bersusah payah dalam mencari uang. Saya mau lebih menghargai lagi jerih payah orang tua saya.
ASTRID XI IPS 1-o2

Setelah Saya, Nydia, dan Astrid melaksanakan wawancara ini saya menyadari bahwa hidup itu memang berat dan tidak ada sesuatu yang kita raih tanpa perjuangan. Saya juga menyadari kadang saya suka memakai uang untuk hal yang sebetulnya belum terlalu penting, padahal ada hal yang jauh lebih penting. Dan di luar sana banyak saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan uang namun kita hanya memfoya-foyakan untuk hal yang kurang penting. Maka mulai dari sekarang saya akan berusaha memilih-milih untuk menggunakan uang yang diberikan oleh orang tua saya dengan bijak karena itu merupakan hasil jerih payah kedua orang tua saya karena saya tahu bahwa mencari uang itu dibutuhkan usaha dan perjuangan yang tidak mudah.
CARISSA XI IPS 1-o5

Setelah melaksanakan wawancara bersama Astrid dan Carissa, saya secara pribadi merasa sangat menyesal karena selama ini saya sudah menghambur-hamburkan uang orang tua dengan sangat sia-sia. Tanpa saya sadari, selama ini uang yang diperoleh oleh kedua orang tua saya dengan susah payah, saya hamburkan hanya untuk hal-hal yang tidak berguna, sedangkan di luar sana banyak sekali saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan uang tersebut. Namun, setelah saya mewawancarai Bapak M.Yusuf, saya akan berusaha untuk merubah sikap saya dan berusaha untuk bersikap sehemat mungkin, serta secermat mungkin dalam menggunakan uang dari kedua orang tua saya.
NYDIA XI IPS 1-24

Hidup seorang pedagang


Ibu Minah

Ibu Minah adalah seorang pedagang sayur-sayuran di pasar dekat rumah saya (Debora). Ia bukan asli orang Jakarta, Ia berasal dari Jawa. Ibu Minah pindah ke Jakarta pada tahun 1970 dan langsung menjadi pedagang. Ia sudah berkeluarga, memiliki 4 orang anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Dua diantaranya sudah menikah, dan Ibu Minah sudah memiliki 2 orang cucu. Memang, Ia sudah berpisah lama dengan suami-nya, tetapi walaupun begitu Ia tidak pernah kekurangan, karena kegigihannya dalam bekerja. Penghasilannya selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Setiap hari-nya, Ibu Minah datang ke pasar pukul 5 pagi untuk menjual dagangannya. Sekitar pukul 11.30, Ibu Minah mulai memberes-bereskan dagangan. Ia pulang ke rumahnya di Jembatan Gantung, yang tidak jauh dari pasar. Sesampainya di rumah Ia memasak untuk keluarganya. Setelah itu, Ia pergi ke Pasar Induk untuk berbelanja kembali barang dagangannya yang sudah habis, lalu Ia kembali berdagang di pasar pada pukul 17.00 hingga 19.00 atau 20.00 Itulah kesehariannya.

Sebagai pedagang, Ibu Minah sangat menyukai pekerjaannya ini. Ia tidak merasa terbebani atau merasa terpaksa menjalankan pekerjaannya. Meski tidak bekerja sebagai orang kantoran, Ia tetap bersyukur bisa bekerja walaupun tidak memiliki ijazah, tidak seperti orang-orang yang malah menganggur saja. Ia bisa dikatakan cukup sukses. Dagangannya laku setiap hari-nya. Ada cabai, telur, kentang, sayuran, dsb. Ibu Minah tidak pernah terpikir untuk bekerja dengan profesi yang berbeda, karena wirausaha adalah yang paling cocok baginya.

Setiap pekerjaan pasti ada suka dan duka-nya, begitu pula dengan Ibu Minah. Yang menyenangkan dari pekerjaannya ini adalah Ia dapat bertemu dengan banyak orang, berelasi dengan banyak orang, tidak menjadi orang yang tertutup dan tidak mempunyai teman. Sedangkan duka dari pekerjaannya ini adalah jika harga barang-barang naik, Ibu Minah kewalahan karena dagangannya bisa sepi. Apalagi sekarang harga kian tidak menentu, sewaktu-waktu bisa naik drastis. Inilah yang menjadi ketakutan Ibu Minah. Tetapi Ibu Minah tetap bersyukur masih bisa mendapatkan penghasilan walaupun dagangannya sepi.

Saya sempat bertanya pada Ibu Minah apa tujuan hidup dari ibu 4 anak ini, Ia menjawab bahwa Ia ingin menjadi orang sukses seperti kebanyakan orang. Ia ingin mempunyai mobil sebab sampai sekarang ini Ia hanya bisa meminjam dari orang. Tetapi Ia yakin, suatu saat nanti dari penghasilan yang Ia kumpulkan, Ia dapat mendapatkan mobil seperti yang Ia idamkan.

Sebagai manusia beriman, Ibu Minah juga selalu mengikut sertakan Tuhan dalam pekerjaannya. Dapat bekerja dengan lancar hingga saat ini juga merupakan bantuan dari Tuhan. Berkat yang selama ini diterimanya juga merupkan berkat dari Tuhan.



saya (Debora) dan Ibu Minah


Refleksi Pribadi

Dari pengalaman mewawancarai seseorang yang berprofesi sebagai pedagang, kita dapat merasakan bahwa mencari suatu pekerjaan bukanlah merupakan hal yang mudah. Pekerjaan dimana penghasilannya dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk orang yang sudah berkeluarga. Bukan hanya untuk kebutuhan sendiri, melainkan juga untuk kebutuhan keluarganya. Tetapi apapun pekerjaan yang kita dapatkan apakah itu menyenangkan atau menyebalkan untuk kita, kita harus tetap menjalaninya. Kita harus bersyukur masih memiliki pekerjaan. Walaupun pekerjaan kecil, setidaknya itu lebih baik daripada menganggur. Kita tidak boleh merasa terpaksa dalam menjalankan pekerjaan, karena jika sesuatu dijalankan secara terpaksa maka tidak akan membuahkan hasil yang baik. Memang terkadang pekerjaan yang kita dapat tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tetapi kenyataannya jaman sekarang sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan yang ideal. Disamping itu, kita juga harus menghormati orang tersebut apapun pekerjaannya. Jangan karena orang itu pekerjaannya kecil kita jadi meremehkan, padahal serendah-rendahnya pekerjaan mereka, mereka tetap berjasa bagi kehidupan kita. Kita harusnya berterima kasih.

Kita juga belajar bahwa kita tidak boleh seenaknya saja menghambur-hamburkan uang yang kita dapat dari orangtua. Kita memang belum pernah merasakan bagaimana susahnya mencari uang maka kita masih bisa berani menghamburkannya untuk membeli sesuatu yang tidak penting. Kita menjadi belajar untuk menghormati jerih payah orangtua. Kita harus belajar untuk tidak boros dan mempergunakan uang untuk hal-hal yang penting saja.

Lalu, tidak lupa kita harus ingat bahwa penyertaan Tuhan sangatlah besar di dalam menjalankan suatu profesi. Tuhanlah yang menuntun kita untuk mendapatkan pekerjaan itu. Jika kita sudah mendapatkan pekerjaan maka kita harus berterima kasih pada Tuhan atas berkatNya. Tuhan pula yang senantiasa melindungi dan membimbing kita dalam pekerjaan sehinga semua dapat terlaksana dengan baik.

Pada intinya, kita harus menyerahkan segala sesuatu yang kita punya kepada Tuhan, dan membiarkan Tuhan yang mengatur. Kita juga harus percaya bahwa apa yang diberikan oleh Tuhan adalah yang terbaik untuk kita, termasuk pekerjaan.

Debora XI IPS 1 -8

Feli XI IPS 1 - 12